Londhoireng’s Blog

Genit Menggelitik, Manja Mempesona

Si Kancil KENA BATUNYA
Angin yang berhembus semilir-semilir membuat penghuni hutan mengantuk. Begitu juga
dengan Si Kancil. Untuk mengusir rasa kantuknya ia berjalan-jalan di hutan sambil
membusungkan dadanya. Sambil berjalan ia berkata, “Siapa yang tak kenal Kancil. Si pintar,
si cerdik dan si pemberani. Setiap masalah pasti selesai olehku”. Ketika sampai di sungai, ia
segera minum untuk menghilangkan rasa hausnya. Air yang begitu jernih membuat Kancil
dapat berkaca. Ia berkata-kata sendirian. “Buaya, Gajah, Harimau semuanya binatang
bodoh, jika berhadapan denganku mereka dapat aku perdaya”.
Si Kancil tidak tahu kalau ia dari tadi sedang diperhatikan oleh
seekor Siput yang sedang duduk di bongkahan batu yang besar. Si
Siput berkata, “Hei Kancil, kau asyik sekali berbicara sendirian. Ada
apa? Kamu sedang bergembira?”. Kancil mencari-cari sumber
suara itu. Akhirnya ia menemukan letak Si Siput.
“Rupanya sudah lama kau memperhatikanku ya?”. Siput yang kecil
dan imut-imut. Eh bukan!. “Kamu memang kecil tapi tidak imut-imut,
melainkan jelek bagai kotoran ayam”. Ujar Si Kancil. Siput terkejut
mendengar ucapan Si Kancil yang telah menghina dan membuatnya
jengkel. Lalu Siputpun berkata, “Hai Kancil!, kamu memang cerdik
dan pemberani karena itu aku menantangmu lomba adu cepat”.
Akhirnya mereka setuju perlombaan dilakukan minggu depan.
Setelah Si Kancil pergi, Siput segera memanggil dan
mengumpulkan teman-temannya. Ia meminta tolong
teman-temannya agar waktu perlombaan nanti semuanya
harus berada di jalur lomba. “Jangan lupa, kalian
bersembunyi di balik bongkahan batu, dan salah satu
harus segera muncul jika Si Kancil memanggil, dengan
begitu kita selalu berada di depan Si Kancil,” kata Siput.
Hari yang dinanti tiba. Si Kancil datang dengan sombongnya, merasa ia pasti akan sangat
mudah memenangkan perlombaan ini. Siput mempersilahkan Kancil untuk berlari duluan dan
memanggilnya untuk memastikan sudah sampai mana ia sampai. Perlombaan dimulai.
Kancil berjalan santai, sedang Siput segera menyelam ke dalam air. Setelah beberapa
langkah, Kancil memanggil Siput.
Tiba-tiba Siput muncul di depan Kancil sambil berseru, “Hai
Kancil! Aku sudah sampai sini.” Kancil terheran-heran, segera
ia mempercepat langkahnya. Kemudian ia memanggil Si
Siput lagi. Ternyata Siput juga sudah berada di depannya.
Akhirnya Si Kancil berlari, tetapi tiap ia panggil Si Siput, ia
selalu muncul di depan Kancil. Keringatnya bercucuran,
kakinya terasa lemas dan nafasnya tersengal-sengal. Ketika hampir finish, ia memanggil
Siput, tetapi tidak ada jawaban. Kancil berpikir Siput sudah tertinggal jauh dan ia akan
menjadi pemenang perlombaan. Si Kancil berhenti berlari, ia berjalan santai sambil
beristirahat. Dengan senyum sinis

Kancil berkata, “Kancil memang tiada duanya.” Kancil
dikagetkan ketika ia mendengar suara Siput yang sudah
duduk di atas batu besar. “Oh kasihan sekali kau Kancil.
Kelihatannya sangat lelah, Capai ya berlari?”. Ejek Siput.
“Tidak mungkin!”, “Bagaimana kamu bisa lebih dulu sampai,
padahal aku berlari sangat kencang”, seru Si Kancil.
“Sudahlah akui saja kekalahanmu,” ujar Siput. Kancil masih heran dan tak percaya kalau a
dikalahkan oleh binatang yang lebih kecil darinya. Kancil menundukkan kepala dan mengakui
kekalahannya. “Sudahlah tidak usah sedih, aku tidak minta hadiah kok. Aku hanya ingin
kamu ingat satu hal, janganlah sombong dengan kepandaian dan kecerdikanmu dalam
menyelesaikan setiap masalah, kamu harus mengakui bahwa semua binatang mempunyai
kelebihan dan kekurangan masing-masing, jadi jangan suka menghina dan menyepelekan
mereka”, ujar Siput. Siput segera menyelam ke dalam sungai. Tinggallah Si Kancil dengan
rasa menyesal dan malu.
HIKMAH
:
Janganlah suka menyombongkan diri dan menyepelekan orang lain, walaupun kita

memang cerdas dan pandai

19 Desember 2008 Posted by | Cerita Anak-Anak | Tinggalkan sebuah Komentar

   

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.