Londhoireng’s Blog

Genit Menggelitik, Manja Mempesona

Oh..Jatiluhurku…

Pada hari minggu, ku turut ayah dan ibu ke Jatiluhur. Naik mobil Toyota Starlet warna biru..aku memanggilnya si-tompel, karena didepan ada tanda tompelnya.

Disana ada banyak mainan, keliling2 naik kereta diesel, trus kreta monorel. Aku dah bosen sih..kesana udah keseringan, dari waktu TK dulu sampai sekarang SD. Kebetulan nenekku datang terus ngajak ke Jatiluhur, katanya mau makan ikan Bakar. Oh iya kalo makan ikan bakar jangan di warung-warung dekat danau…MAHAL!!! mending ke pasarnya ajah.

Oh iya kalo naik perahu kecil bayarnya Rp.5,000, jet ski bayar Rp.150,000, perahu besar rombongan Rp.25,000.

Kalo monorel bayar Rp.10,000 trus ada motor trail mini sewanya Rp.15,000.

11 November 2008 Posted by | Jalan-Jalan | 2 Komentar

17 Agustusan

Aku ikut lomba makan krupuk di acara perlombaan 17 Agustusan yg dilaksanakan oleh panitian perlombaan 17-an RT.04 / RW.11 Perum.Griya Asri Purwakarta. Perlombaan buanyak buanget ada utk Bapak-Bapak,Ibu-Ibu, Remaja dan Anak-Anak.

Yang aku menangkan adalah :

1. Juara II Rally sepeda.

2. Juara II Bola Air.

3. Juara II Karya Tulis Anak-Anak, aku ngambil judul’ Taman Baca’

Seneng Deh…makasi pak RT.04 Bpk.Novian Hery…peace!!

11 November 2008 Posted by | Permainan | Tinggalkan sebuah Komentar

SI MALAS

foto0021

LondhoIreng

Di pinggiran sebuah kota, tampak sebuah gubuk kecil yang kotor. Disana hanya terdapat dua ruangan sempit. Tampak sang istri sedang menjahit di bawah tenda di depan rumah, sedangkan sang suami hanya duduk – duduk di atas tikar yang sobek. “Suamiku, pergilah mencari pekerjaan, di rumah sudah hampir tidak ada uang!” pinta sang istri. “Cari pekerjaan? Itu cara mencari uang yang sangat lama, saya sedang mencari jurus ampuh?” sahut sang suami. Sang istri kembali berkata, “Kerja seberapa ya dapat seberapa, mana ada jurus ampuh segala? kamu selalu saja membaca buku dari aliran sesat yang tidak karuan itu.”

Tiba-tiba sang suami berteriak dengan gembira,”Eh . .lihat……lihat di buku ini menerangkan bahwa ada daun yang bisa membuat orang menghilang, aku segera pergi mencarinya.” Sesampainya di hutan dia mulai mencari, “Ini tidak mirip, yang ini juga tidak mirip, ah  . .itu dia di atas pohon, ya …yang ini dia dengan gambar di buku sama persis”. Sang suami pun memanjat pohon tersebut, namun tiba-tiba ada angin kencang meniup daun yang ada di tangannya itu sehingga terbang. “Celaka, jangan lari, jangan lari”, si suami mencoba meraih daun tersebut, akhirnya daun itu terjatuh ke bawah tercampur dengan daun-daun yang lain, sehingga dia jadi bingung, “Wah bagaimana ini? Ah! lebih baik semua saya bawa pulang saja, nanti di rumah baru di cari satu persatu”. Maka dia pun membawa semua daun-daun tersebut hingga penuh satu keranjang.

Sesampainya di rumah, dicobanya daun itu satu persatu ditempelkan di wajahnya sambil bertanya pada istrinya, “Hei, istriku, apakah aku kelihatan ?”

“Kelihatan”, jawab sang istri. “Sekarang apa masih kelihatan?” tanya si suami lagi. “Kelihatan”, jawab si istri lagi. “Kalau begini apa masih kelihatan?” sambil mengganti dengan daun yang lain. “Masih kelihatan”, sahut sang istri dengan sedikit jengkel. Sekali lagi sang suami mengganti daun dan ditaruh di wajahnya, sambil bertanya lagi, “Kalau begini apa terlihat?” Sang istri saking jengkelnya diberi pertanyaan yang sama berulang-ulang, maka menjawab seenaknya, “Tidak kelihatan, tidak kelihatan.”

Sang suami berteriak dengan gembiranya, “Ha..ha..sungguh bagus, dengan daun ini kita akan segera jadi kaya.”

Maka pergilah sang suami ke pasar, sampai di depan penjual perhiasan, dia menaruh daun tersebut di depan mukanya dan berkata, “Tidak terlihat, tidak terlihat”, sambil mengambil sebuah gelang emas.

Namun alangkah kagetnya, ketika sang penjual perhiasan berteriak sambil menyeret tangannya, “Hei pencuri! apa yang kamu lakukan, ayo kita ke kantor polisi.” Massa pun berusaha memukulnya, si suami yang malas itu dengan wajah babak belur berteriak dengan bingung, “Ke… kkenn . . kenapa bisa jadi begini?” (disadur dari : Cerita anak sekolah Minghui/ntdtv/ing)

11 November 2008 Posted by | Cerita Anak-Anak | 4 Komentar

Tongkat Besi Diasah Menjadi Jarum

Li Bai adalah seorang penyair tersohor dari dinasti Tang. Li Bai mendapat julukan sebagai “Dewa Penyair”. Akan tetapi sewaktu usia belia, dia adalah seorang anak yang nakal dan malas.
Pelajaran sekolah pada masa itu kebanyakan mengenai sejarah dan keanekaragaman status sosial, yang cukup menyulitkan Li Bai. Maka Li Bai kecil yang tidak mau bersusah payah itu sering membolos pelajaran, asyik bermain diluar sekolah,
Pada suatu hari Li Bai kecil dibuat pusing dengan pelajaran yang tidak dia sukai. Dia lalu memutuskan melarikan diri dari kelasnya dan pergi ke tepi sungai yang ada di pinggiran kota.
Tempat itu sangat menyenangkan bagi Li Bai kecil. Di sana terdapat bunga yang indah, matahari yang cerah, bunyi air mengalir dan kesemuanya ini terasa lebih menggairahkan daripada raut wajah Gurunya yang penuhi dengan jenggot putih.
Li Bai kecil berlari-lari bagaikan seekor burung kecil yang terbang ke langit biru. Pada saat itu, dia tiba-tiba melihat seorang nenek tua. Seluruh rambutnya putih, sedang asyik berjongkok di seberang sungai. Tangannya memegang sebatang besi yang panjang dan tebal.
Si nenek sedang asyik mengasah batangan besi itu di atas batu yang kilap dan halus. Li Bai kecil sangat keheranan melihatnya dan bertanya, “Nenek sedang apa?”
“Oh, nenek sedang mengasah jarum,” jawab nenek itu. “Mengasah jarum?!” kata Li Bai kecil dengan terkejut. “Nenek mau mengasah tongkat besi sebesar ini menjadi sebuah jarum sulam? Sampai kapan jadinya?”
Nenek tua itu berkata pada Li Bai kecil, “Meskipun besi ini besar, tetapi dia tak akan bisa bertahan bila nenek tiap hari mengasahnya. Tiap hari akan mengecil sedikit, lama kelamaan pasti bisa menjadi sebesar jarum.”
Mendengar perkataan nenek tua itu, Li Bai kecil tiba-tiba mengerti sesuatu, dia berpikir, “Oh iya, bila mengerjakan sesuatu dapat tekun seperti nenek tua ini, tidak takut susah, dengan sabar tiap hari me-ngerjakannya, maka sesulit apapun pasti bisa kita kerjakan. Belajar juga harus demikian.”
Li Bai kecil akhirnya memberi hormat kepada nenek tua itu. Lalu dia berlari kembali ke kelasnya. Sejak itu Li Bai belajar dengan sungguh-sungguh, akhirnya menjadi seorang penyair yang hebat dan termashyur. (Kumpulan Peribahasa/hln)

11 November 2008 Posted by | Cerita Anak-Anak | Tinggalkan sebuah Komentar

BANTAL LABU

Di sebuah pinggir jalan raya, tampak dua pengemis cilik sedang meminta sedekah, “Paman dan bibi yang baik hati, kasihanilah kami.” Pengemis yang lebih tua berkata kepada adiknya, “Adik, apakah kita seumur hidup akan menjadi pengemis seperti ini?” “Kak, jangan berkata begitu, asalkan kita rajin, tentu akan menemukan kebahagiaan”, jawab sang adik.

Mereka berjalan terus hingga bertemu dengan seorang petani yang sedang mengerjakan sawahnya, sang kakak bertanya pada petani tersebut, “Paman, tahukah anda dimanakah letak kebahagiaan?”

Sang petani menjawab, “Mulai dari sini teruslah berjalan ke depan, kalian akan melihat buah labu yang besar, asalkan kalian mengambilnya dan menggunakannya sebagai bantal maka kalian akan merasa bahagia.”

Setelah mengucapkan terima kasih, mereka melanjutkan perjalanan. Dalam perjalanan sang kakak mengomel, “Aku tidak percaya pada omongan paman petani itu, mana ada urusan sesederhana itu.”

“Kak, sekarang ini kita keliling ke segala penjuru tidak tahu arah mana yang dituju, tidak ada salahnya kita mencoba mengikuti petunjuk paman petani tadi”, adiknya pun terus menariknarik tangan si kakak. Si kakak masih mengeluh, “Aku sangatlah lapar, sudah tidak sanggup berjalan lagi.”

Disaat mereka duduk dengan kelelahan dan kelaparan yang sangat, lewatlah seorang bibi yang memandang mereka dengan iba. Bibi itu berkata, “Kalian berasal dari mana?” Sang adik bertanya pada bibi tersebut, “Bibi yang baik hati, tahukah anda di mana letak buah labu yang bisa membuat bahagia?” Sang kakak juga berkata, “Bibi, kami adalah dua anak yatim piatu yang sedang kelaparan, mohon Bibi sudi memberikan kami sedikit makanan.”

Si bibi berkata, “Kalian seperti anakku yang telah meninggal, ikutlah aku pulang, aku akan memberi kebahagiaan pada kalian.” Mereka berdua tentu saja sangat gembira, langsung saja memanggil “Ibu” pada bibi tersebut.

Sepuluh tahun kemudian, kedua pengemis itu telah tumbuh dewasa, tetapi karakter mereka berdua sangatlah berlawanan. Suatu hari saat makan, sang adik berkata pada kakaknya, “Kak, kalau makan, janganlah boros.” Sang kakak menjawab dengan nada tidak senang, “Kenapa kamu selalu mencampuri urusanku? Sekarang ibu sudah meninggal, saya mau melakukan apapun yang kusuka.” Sambil berkata demikian, dia membuang sepotong paha ayam ke lantai.

11 November 2008 Posted by | Cerita Anak-Anak | , | Tinggalkan sebuah Komentar

   

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.